Enam Pegawai SPPG Kota Agung Terdeteksi Positif Narkoba, BNN Dorong Rehabilitas

TANGGAMUS – Temuan hasil tes urine terhadap pegawai dan relawan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kecamatan Kota Agung menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tanggamus melakukan tes urine secara mendadak terhadap pegawai dan relawan SPPG yang berada di Gang Bumi Jaya, Pekon Terbaya, Kecamatan Kota Agung, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari deteksi dini terhadap penyalahgunaan narkotika di lingkungan SPPG. Pemeriksaan dilakukan secara bergantian dan acak, menindaklanjuti surat edaran Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) serta permintaan dari pihak dapur SPPG.

Dari informasi yang dihimpun, enam pegawai atau relawan diketahui menunjukkan hasil positif dalam tes urine narkoba.

Temuan tersebut sontak menjadi perhatian mengingat para pekerja SPPG terlibat langsung dalam proses penyediaan makanan bagi penerima manfaat program MBG.

Kepala BNN Kabupaten Tanggamus, Diani Indramaya, melalui Tim Kehumasan dan Media Sosial BNN Tanggamus, Ulfa Arum Kartika, membenarkan adanya pelaksanaan tes urine tersebut.

“Tes urine mendadak itu bagian dari deteksi dini. Kebetulan ada surat edaran dari Kepala BGN dan permintaan dari dapur itu sendiri,” ujar Ulfa.

Namun, BNN Tanggamus tidak membuka identitas maupun data pribadi para pegawai yang memperoleh hasil positif.

Terkait tindak lanjut, Ulfa menjelaskan bahwa penanganan terhadap pekerja yang hasil tes urinenya positif dikembalikan kepada pengelola dapur. Meski demikian, BNN mendorong agar mereka mengikuti proses rehabilitasi.

“Kalau mengenai sanksi itu dikembalikan ke pihak dapur. Yang jelas nama-nama yang positif tersebut harusnya direhab. Mereka harus kooperatif untuk datang ke BNN Tanggamus untuk rehabilitasi, karena bagaimanapun juga pengguna narkoba itu adalah korban yang harus disembuhkan,” tegasnya.

Bukan Sekadar Persoalan Individu

Temuan tersebut tidak semestinya berhenti pada persoalan sanksi terhadap individu. Pemerintah dan pengelola SPPG juga perlu memastikan sistem pengawasan terhadap seluruh personel berjalan secara ketat.

Pasalnya, pekerja dapur SPPG memiliki peran dalam berbagai tahapan penyediaan makanan, mulai dari persiapan bahan, proses memasak, penyimpanan hingga distribusi kepada penerima manfaat.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan, skrining personel, penerapan kebersihan, penggunaan alat pelindung diri serta kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan program MBG.

Meski demikian, hasil positif tes urine tidak serta-merta membuktikan bahwa makanan yang diproduksi SPPG tercemar atau menimbulkan gangguan kesehatan**. Hal tersebut membutuhkan pemeriksaan dan investigasi tersendiri berdasarkan bukti yang objektif.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana pengelola memastikan seluruh pekerja yang berada di dapur berada dalam kondisi layak menjalankan tugas dan tidak menimbulkan risiko terhadap proses produksi makanan.

Pengawasan Program MBG Dipertanyakan

Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang menyasar pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

Dengan demikian, aspek keamanan pangan dan kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan program.

Temuan enam pegawai yang memperoleh hasil positif dalam tes urine seharusnya menjadi momentum bagi pengelola untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rekrutmen, pemeriksaan kesehatan, pengawasan internal dan penerapan SOP di dapur SPPG.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, Kepala SPPG Pasar Madang I, Musa Fadilah, belum memberikan keterangan terkait temuan tersebut.

Upaya konfirmasi telah dilakukan melalui sambungan telepon dan pesan singkat, namun belum memperoleh tanggapan.

Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak SPPG maupun pihak terkait lainnya demi menjaga keberimbangan pemberitaan.

Kasus ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan MBG bukan hanya soal berapa banyak porsi makanan yang dibagikan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut dipastikan bergizi, higienis, aman, serta diproduksi melalui sistem pengawasan yang profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.(defi)

Bagikan Ini Menarik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *