LAMPUNG BARAT – Dampak fenomena alam di perairan Danau Ranau, Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat (Lambar) terus bertambah, sampai hari ini jumlah kerugian pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) mencapai Rp 1 Miliar, sedangkan ikan yang mati untuk pakan lele dan patin.
Edison (29) salah satu pembudidaya ikan KJA Pekon Kagungan mengatakan, perkiraan sementara sebanyak 30 sampai 40 ton ikan mati akibat fenomena tersebut.
“Kalau jumlah realnya kita belum tau pasti, namun perkiraan mungkin sudah puluhan ton. Contohnya punya saudara Hariyadi saja, punya satu orang petani sebanyak tujuh sampai delapan ton, beliau memiliki empat sampai lima keramba jadi jelas itu sampai puluhan ton ikan yang mati,” ujar Edison, Kamis (12/1/2023).
Jika kita kalkulasikan lanjut Edison, per kilogramnya dijual dengan harga Rp 25 ribu rupiah dikali 40 ton maka total kerugian mencapai Rp 1 Miliar.
“Fenomena seperti ini pernah terjadi pada tahun 2017 lalu, dan biasanya hanya berlangsung satu sampai tiga hari. Tetapi fenomena saat ini terjadi sudah sepuluh hari lebih. Memang tensinya naik turun artinya kadar belerangnya naik turun,” kata Edison.
Lebih lanjut Edison menerangkan, ikan yang sudah tidak dapat dikonsumsi dimanfaatkan petani untuk pakan ikan lele dan patin. Sedangkan untuk ikan yang masih layak konsumsi dijual dengan harga Rp 15 ribu rupiah per kilogram.
Edison berharap, Pemkab Lambar dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi dan bisa memfasilitasi para pembudidaya ikan KJA agar berkoordinasi kepada pihak perbankan supaya diberikan keringanan dalam pengembalian dana pinjaman.
“Kami (pembudidaya Ikan) sebelumnya sudah memikirkan untuk membayar bank, untuk membeli pakan dan segala macam, tetapi karena adanya fenomena ini semuanya buyar, sama saja kami mulai dari nol. Sebab mayoritas para pembudidaya memanfaatkan pembiayaan dari perbankan. Harapan kami kepada Pemerintah untuk membantu negosiasi kepada pihak Perbankan supaya kami diberi keringanan waktu pengembalian pinjaman,” pungkasnya
Kepala Dinas Perikanan Lambar Kamaludin mengatakan, pihaknya telah meninjau dan melakukan koordinasi kepada pembudidaya yang terdampak fenomena alam yang sedang terjadi saat ini.
Kamaludin juga mengatakan, terdapat dua jenis ikan akibat fenomena tersebut, pertama yang masih aman dikonsumsi dan yang tidak bisa dikonsumsi. Untuk yang masih bisa dikonsumsi yaitu ikan yang memang belum mengeluarkan bau tidak sedap, sedangkan ikan yang tidak bisa di konsumsi yaitu ikan yang sudah satu jam mengapung dipermukaan.
“Atas kejadian ini Pemkab Lambar siap memfasilitasi para pembudidaya yang menggunakan pembiayaan perbankan untuk diberikan keringanan waktu pengembalian sehingga para pembudidaya tidak merasa terbebani,” ujar Kamaludin.
“Kemudian untuk program Dinas jika memang dananya mencukupi pada tahun 2024 mendatang, akan kita berikan bantuan berupa alkon dan alat alat blower benih bahkan pakan ikan,” tambahnya.
Di lokasi juga nampak pihak Dinas Lingkungan Hidup sedang mengambil sampel air danau untuk melihat parameter Kimia seperti kadar oksigen dalam air dan Parameter Fisika. (Niel)












