Di Bawah Debu Anak Krakatau Mengajarkan Kita Tentang Rapuhnya Keteguhan

Lampung barat _ Oleh: Ahmad Yasir Hadibroto

Ketua Komisi Dakwah MUI Lampung Barat

Ketika kembali menunjukkan gejolaknya dan melepaskan abu vulkanik ke udara, langit seolah kehilangan wajahnya. Jarak pandang menyempit, udara berubah, dan manusia dipaksa menyadari satu hal yang sering terlupakan: kita hidup di tengah kekuasaan Allah yang jauh melampaui kendali manusia.

Erupsi gunung api bukan sekadar fenomena geologi yang dapat dibaca melalui data dan instrumen. Bagi seorang mukmin, setiap gejala alam juga dapat menjadi ruang untuk tadabbur—merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah—dan muhasabah, menengok kembali keadaan diri.

Al-Qur’an menggambarkan betapa sesuatu yang selama ini kita pandang sebagai simbol kekokohan pun pada akhirnya berada sepenuhnya dalam kehendak Allah:

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا ۙ فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنْبَثًّا

“Dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.”QS. Al-Waqi’ah: 5–6

Gunung yang menjulang tinggi, yang dari kejauhan tampak begitu kokoh dan tak tergoyahkan, pada saatnya dapat berubah menjadi debu yang beterbangan. Abu vulkanik yang memenuhi udara hari ini seakan mengingatkan kita bahwa apa yang terlihat kuat di mata manusia, sesungguhnya tetap rapuh di hadapan kekuasaan Allah SWT.

Di situlah letak pelajarannya.

Manusia sering merasa kuat karena jabatan, kekuasaan, harta, popularitas, ilmu, bahkan jaringan sosial yang dimilikinya. Kita membangun banyak hal lalu merasa semuanya akan bertahan selamanya. Padahal, sebagaimana gunung yang tampak perkasa, segala sesuatu memiliki batas di hadapan kehendak Sang Pencipta.

Yang tinggi belum tentu abadi. Yang kuat belum tentu tak terguncangkan. Dan yang kita banggakan hari ini belum tentu menjadi milik kita selamanya.

Namun, tadabbur tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap dahsyatnya alam. Ia harus berujung pada perubahan sikap manusia.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”QS. Ar-Rum: 41

Ayat ini tidak semestinya dipahami secara serampangan bahwa setiap bencana tertentu pasti merupakan hukuman atas dosa orang-orang tertentu. Kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan maksud Allah di balik sebuah musibah.

Tetapi ayat tersebut memberi cermin moral: manusia harus mengevaluasi bagaimana tangannya memperlakukan bumi, bagaimana perilakunya terhadap sesama, dan bagaimana ia menjalani amanah kehidupan.

Karena itu, ketika abu vulkanik menutup pandangan, mungkin ada sesuatu yang lebih penting untuk kita bersihkan: debu yang menutupi hati.

Ketika jarak pandang manusia menjadi terbatas, mungkin kita sedang diingatkan untuk melihat kembali arah hidup.

Ketika alam memperlihatkan kedahsyatannya, mungkin kesombongan kita sedang diminta untuk dikecilkan.

Dan ketika aktivitas manusia harus berhenti sejenak demi keselamatan, mungkin kita sedang diberi kesempatan untuk bertanya: sudahkah kehidupan yang kita jalani benar-benar membawa kita lebih dekat kepada Allah?

Erupsi juga mengajarkan bahwa ikhtiar dan tawakal tidak boleh dipertentangkan.

Berdoa bukan alasan untuk mengabaikan mitigasi. Beristigfar bukan berarti menolak ilmu pengetahuan. Tawakal bukan berarti mengabaikan peringatan kebencanaan.

Sebaliknya, seorang mukmin justru dituntut untuk taat kepada ikhtiar keselamatan, mengikuti informasi resmi, menjaga diri dan keluarga, membantu mereka yang terdampak, sekaligus memperbanyak doa dan istigfar.

Sebab menjaga keselamatan manusia juga merupakan bagian dari amanah agama.

Maka, di bawah langit yang tertutup abu Krakatau, mari kita membaca lebih dari sekadar sebuah peristiwa alam.

Mari kita belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa atas segala sesuatu.

Mari kita menundukkan hati yang mungkin terlalu lama merasa tinggi.

Mari kita perkuat kepedulian kepada mereka yang terdampak.

Dan mari kita jadikan setiap ujian sebagai kesempatan untuk kembali kepada Allah—dengan hati yang lebih rendah, amal yang lebih nyata, serta kepedulian yang lebih luas.

Abu boleh memenuhi langit, tetapi jangan biarkan kesombongan memenuhi hati.

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukanlah perasaan bahwa dirinya kuat, melainkan kesadaran bahwa di atas segala kekuatan manusia, ada Allah Yang Mahakuasa.(ismail MB)

Bagikan Ini Menarik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *