PRINGSEWU – Mewabahnya penyakit DBD di Pekon Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu yang menjangkit kurang lebih 20 orang dalam waktu kurang dari sebulan diduga disebabkan karena kurang cepatnya penanganan atau pencegahan dari pihak terkait dalam hal ini UPT Puskesmas Bumiratu.
Kepala Pekon Lugusari, Sarjono mengatakan, pihak pekon saat masih sedikit yang terjangkit DBD sudah mengutus kepala dusun (Kadus) 04/RT 12, Sutowo menemui bidan desa Ratna Purnama Dewi untuk segera melaporkan ke UPT Puskes setempat guna melakukan Fogging.
“Sudah diinformasikan mas, tapi kata bidan desa di Puskes sendiri dananya sedang kosong, bidan desa malah menganjurkan warga untuk iuran guna melakukan fogging mandiri,” ujar Kakon Lugusari, Selasa (25/06/2024)
Padahal menurut Sarjono, wabah DBD telah menjadi momok setiap tahun, sangat disayangkan jika dana penanggulangan di Puskes bisa sampai kosong.
Saat akan dikonfirmasi terkait masalah tersebut, mewakili Kepala UPT Puskesmas Bumiratu, Ida Sundari yang sedang tidak berada di tempat, Penanggungjawab Penanggulangan Penyakit (Pj P2) Puskesmas Bumiratu, Sidik membenarkan dana penanggulangan penyakit di Puskes untuk tahun 2024 sudah kosong.
“Tahun ini, kami hanya mendapatkan alokasi dana penanggulangan untuk 20 kasus, dan telah terpakai pada Maret lalu, ” kaga Sidik.
Menurut Sidik, pihaknya ingin mengajukan kembali dana untuk penaggulangan penyakit khususnya DBD, namum prosesnya tidak mudah.
Fogging akhirnya dilaksanakan dengan menggunakan dana dari Pekon yang dibantu oleh Hartono Rosady, SE warga pekon setempat yang juga menjabat sebagai DPRD Pringsewu dari Fraksi PAN.
Saat dihubungi lewat sambungan selular, Hartono Rosady membenarkan dirinya juga ikut mendanai fogging tersebut. “Ya memang benar dana untuk Fogging untuk dua titik dari saya, dua titik lagi dari pekon, ” terangnya.
Dirinya mengaku kasihan pada masyarakat karena menunggu tindakan dari pihak terkait terlalu lama. ” Dikhawatirkan akan lebih banyak yang terjangkit, ” Pungkasnya. (*/yono)












