Dinkes Tubaba Catat 352 Kasus DBD Hingga November, Begini Upaya Yang Dilakukan

ANALIS.CO, TULANG BAWANG BARAT – Terhitung sejak Januari hingga November 2022, sebanyak 352 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tercatat di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung.

Demikian itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tubaba, Majril, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Mega, didampingi Rizal, Pengelola Program DBD pada Dinkes Tubaba, saat dikonfirmasi Analis.co di ruang kerjanya, Senin (05/12/2022).

Dijelaskan Rizal, bahwa secara rinci kasus DBD yang terjadi sepanjang 2022 yakni, 39 kasus terjadi pada bulan Januari, 67 kasus Februari, 7 kasus Maret, 22 kasus April, 12 kasus Mei, 28 kasus Juni, 23 kasus Juli, 71 kasus pada Agustus, 17 kasus September, 39 kasus Oktober, dan 27 kasus pada November.

“Adapun bulan Desember belum tercatat karena belum sampai akhir bulan. Dan untuk jumlah kasus paling banyak ditemukan di Kelurahan Mulya Asri sebanyak 97 kasus dan Panaragan Jaya 84 kasus,”jelasnya.

Kata dia, jika dibandingkan kasus DBD pada Tahun 2021 yang hanya terdapat 91 kasus selama setahun, maka kasus DBD pada Tahun 2022 ini mengalami peningkatan drastis.

“Meski meningkat, sejauh ini Tubaba tidak ada kematian akibat DBD, karena langsung ditangani dengan cepat oleh instansi pelayanan kesehatan yang ada, baik Puskesmas maupun Rumah Sakit,”ungkapnya.

Lanjut dia, sejak awal Tahun pihaknya telah bergerak dengan memberikan surat edaran kewaspadaan dini di setiap Puskesmas terkait DBD, mengingat curah hujan Tahun 2022 ini memang cukup tinggi dan hampir tidak ada kemarau di Tubaba.

“Kegiatan-kegiatan penanganan DBD juga telah kita gencarkan di Tubaba, mulai dari penyuluhan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pembagian bubuk Abate atau Larvasida kepada Puskesmas untuk dibagikan kepada Tiyuh-Tiyuh dan masyarakat, hingga pelaksanaan fogging bagi wilayah yang terkonfirmasi DBD berdasar uji lab,”tuturnya.

Dirinya menjelaskan, DBD merupakan penyakit berbasis lingkungan yang disebabkan virus Dengue dan disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus, sehingga dalam penanganan DBD diperlukan kerjasama lintas sektor, mulai dari masyarakat, Pemerintah Tiyuh (Desa), Camat, hingga Puskesmas.

“Kita selalu siap melayani masyarakat, jika ada masyarakat yang memerlukan bubuk Abate misalnya bisa juga langsung mengusulkan ke Puskesmas terdekat, akan kita berikan sesuai kebutuhan,”terangnya.

Pihaknya juga memastikan logistik aman, dan untuk anggaran pada Dinas Kesehatan Tubaba dalam penanganan DBD setahun ini adalah Rp.20 Juta selain anggaran dan BOK di Puskesmas.

“Untuk itu, kami berharap dan juga mengimbau kepada masyarakat agar dapat melaksanakan pola hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama mencegah adanya genangan air yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk. Sebab, penanganan DBD merupakan tanggungjawab kita bersama,”pungkasnya. (Ian/Ico)

Bagikan Ini Menarik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *